![]() |
|||||||||||
![]() |
Pemanasan dan Pendinginan Global > Pendinginan Global
PENDINGINAN GLOBAL Beberapa pihak ada yang berpendapat bahwa meningkatnya jumlah gas rumah kaca di atmosfer adalah salah satu gejala akan terjadinya pendinginan global salah satunya adalah Jhon Martin seorang yang memperkenalkan hipotesis tentang besi (The Iron Hypothesis) pada tahun 1989. Dalam hipotesisnya, dia mengajukan pendapat, besi dapat berperan dalam proses pendinginan global. Tetapi, belum sempat dibuktikan kebenaran teorinya tersebut, dia telah lebih dahulu meninggal dunia pada 1993 karena kanker prostat yang dideritanya. Ada beberapa kenyataan yang mendukung pernyataan pendinginan global. Pertama, pada banyak kawasan di beberapa tempat di muka bumi masih terdapat daerah yang suhu udaranya berada di bawah 0 derajat Celcius. Di Indonesia, seperti tahun 2005, yang seharusnya kering dan panas pada musim kemarau, malah terjadi hujan. Bahkan, tahun 2005 dapat dikatakan musim hujan sepanjang tahun. Dua kondisi ini dapat menjadi sangkalan terhadap pernyataan bahwa telah terjadi pemanasan global pada saat ini, padahal Indikasi terjadinya pemanasan global adalah kenaikan suhu yang ekstrem daripada sebelumnya. Kedua, kalau kita merujuk data yang dikeluarkan Carbondioxide Information Analysis Centre (CDIAC), salah satu pusat penelitian milik Departemen Energi Amerika Serikat, menunjukkan beberapa hal bahwa perubahan suhu terhadap kondisi saat ini bersifat fluktuatif naik-turun dari masa ke masa. Perubahan suhu tersebut membuat suatu pola siklus. Jika dianalisis menunjukkan periode waktu keberulangan sekitar 100.000 tahun. Mungkin saja suhu yang naik seperti yang terjadi sekarang ini sebenarnya bukan pemanasan global, tetapi suhu yang sedang berada di puncak dan selanjutnya akan turun kembali mengikuti pola siklus perubahan suhu. Ketiga, kondisi di atmosfer, yakni selain terdapat golongan gas rumah kaca yang memanaskan bumi, juga terdapat golongan yang berlawanan sifatnya dengan gas rumah kaca yaitu aerosol. Aerosol bersifat mendinginkan atmosfer. Aerosol adalah partikel halus berukuran 0,001 μm-10 μm yang berasal dari pecahan benda-benda padat di bumi. Sumber aerosol dan komposisinya secara global antara lain: debu sebagai hasil dari embusan angin 20 persen; garam dari air laut yang terpercik bersamaan gelombang laut 40 persen; abu sebagai hasil dari kebakaran hutan 10 persen; dan sisanya berasal dari partikel asap sebagai hasil kegiatan industri 5 persen. Komposisi dan sumber aerosol tersebut menunjukkan, laut sebagai penyumbang aerosol terbesar jika dibandingkan dengan sumber aerosol yang lain. Dan laut menempati 2/3 dari wilayah bumi yang kita huni ini. Laut juga penyerap emisi CO2 terbesar.
|
||||||||||
![]() |
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
|
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
Kalender |
|||||||||||
Pojok Pengetahuan |
|||||||||||
Web ini dibuat bulan November 2008 _HKH_ tampilan terbaik menggunakan Firefox. |
|||||||||||